Minggu, 23 Desember 2012

Hari Antikorupsi, Peringati atau Merayakannya?

0 komentar
Dulu pada abad ke-12 tokoh Jayabaya pernah memberikan ramalan tentang kehidupan di zaman edan. Di zaman itu, semua orang terpaksa atau dipaksa untuk menjadi edan. Kalau tidak, dijamin hidup akan susah.

Tampaknya ramalan 9 abad lalu itu sangat relevan dengan kondisi di Indonesia saat ini. Coba lihat saja sejumlah praktik korupsi yang kini sudah menjalar ke semua golongan masyarakat baik besar maupun cilik. Buktinya apa? Lihat saja di kantor peradilan, seorang cleaning service dan tukang parkir bisa jadi bagian dari makelar. Di kantor pajak, pegawai rendahan pun bisa nyambi jadi mafia pajak kecil-kecilan. Ini memang bukti zaman edan.

Korupsi kini bukan hanya dilakukan di pusat pemerintahan, seperti di era Soeharto. Korupsi dengan segala bentuk modifikasinya, kini sudah menjalar ke level bawah masyarakat. Ironinya, karena sudah sangat kuat menjalar, kini justru banyak masyarakat yang menikmati hasil perbuatan dan sudah barang tentu hasil korupsi.

Jika semua orang sudah berlomba-lomba berlaku tak jujur bahkan untuk hal-hal kecil dengan jumlah yang tak seberapa tapi dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun dan dianggap wajar, maka jangan harap akan mudah memberantas korupsi di negeri ini. Ketika rakyat kecil harus membayar sejumlah biaya tambahan demi mengurus KTP, KK, Surat Nikah, Akte Kelahiran, SKCK di Kepolisian, memperpanjang SIM, Surat Kehilangan di Polsek, dll, maka mereka yang sehari-hari penghasilannya sudah pas-pasan, akan memutar otak bagaimana caranya memperbesar pendapatan, dengan segala cara, dengan modus yang bisa dia lakukan.

Celakanya, beberapa masyarakat juga ikut menikmati jalan pintas yang sebenarnya salah itu. Masyarakat dengan alasan malas antre dan ikut prosedur, banyak yang memilih pakai pelicin untuk pengurusan yang lebih cepat. Apalagi, mendekati waktu pencoblosan seperti Pemilu 2014, "serangan fajar" justru banyak dinanti-nanti masyarakat. Jelas terlihat bahwa dalam banyak hal, masyarakat ikut andil menyuburkan dan melestarikan korupsi.

Istana negara tepat pada hari ini memepringati Hari Antikorupsi Sedunia. Sejumlah pejabat setingkat menteri berkumpul di sana. Kebetulan, baru beberapa hari yang lalu ada seorang menteri yang menjadi tersangka yang bisa jadi teman dari para menteri yang ikut memperingati Hari Antikorupsi di Istana. So, memperingati atau merayakannya pak?

Kiamat Itu ...

0 komentar
TAK ada yang sebenarnya istimewa dari 21-12-12. Yang mengistimewakannya mungkin hanya populasi kecil orang yang mengaku anak-cucu Suku Maya di benua Amerika sana.

Selain cuma dari tiga pasangan angka yang mirip, terdiri dari dua nomor belaka. Bila dicermati menurut perhitungan kalender, maka tak ada kombinasi angka serupa yang dapat mengulangi 21-12-12, atau kalau dibaca: 21 Desember 2012. Sebab bulan Masehi hanya 12 buah saja. Jadi, memang tak ada kombinasi 31-13-13. Tapi, sebenarnya, tak pula akan terulang, misalnya 5-6-78 (5 Juni 1978).

Kemarin selalu tak pernah sama dengan besok. Setiap hari pasti akan berganti. Berjuta alasan tentang waktu mungkin memang cenderung agak mirip dengan lirik lagu.

Lantas, mengapa ada sebagian warga yang resah? Seperti di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, beredar isu dunia akan kiamat pada 12-12-12. Demi menepis keresahan, di sana digelar makan ikan lele bakar bersama. Ada-ada saja!

Isu kiamat itu dinilai menyesatkan. Penilaian itu dikemukakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan, yang menyangka mungkin ada rekayasa sosial tertentu dengan tujuan meresahkan warga.

Konon, kiamat 21-12-12 berasal dari ramalan Suku Maya. Padahal, sejatinya tak diketahui secara persis kapan suku ini menjadi kiblat dunia. Hanya secuil reruntuhan arkeologi dan fosil mumi yang bisa merekonstruksi bagaimana peradaban Suku Maya pernah ada.

Sebuah sumber menyebutkan, Maya diketahui sebagai peradaban klasik Meso-amerika. Sejarah Maya dimulai di semenanjung Yucatan sekira 2.600 tahun Sebelum Masehi (SM). Kebudayaan mereka berkembang pesat sampai tahun 250 Masehi di seantero kawasan yang kini dikenal sebagai Meksiko Selatan, Guatemala, Honduras Barat, El Salvador, dan  Belize Utara di selatan benua Amerika.

Khususnya di Indonesia, khasanah yang diwarisi dari nenek moyang proto-Amerika tersebut berupa sepatah kata majemuk, yakni “dunia maya” sebagai padanan “cyberworld” dalam bahasa Inggris. Malah, sesuai dengan hukum D-M (diterangkan-menerangkan) menurut kaidah bahasa kita, maka arti “dunia maya” ternyata belum dibakukan. Hanya acap kali dimaknai sebagai “internet” dan bukan “dunia yang tak nyata”.

Lazimnya ramalan, tiada yang layak dipercaya dari legenda kiamat dalam sejarah purbakala yang ditinggalkan suku yang telah punah lebih dari seribu tahun silam. Yang jelas, kita tak mungkin percaya dengan ramalan. Maka, celakalah nenek moyang yang meramal kiamat 21-12-12, bila ternyata faktanya tidak terjadi, dan ramalan itu tetap tinggal bagai mitos dari berupa sebuah misteri belaka.

40 Tahun Memburu Berita

0 komentar
Judul: 40 Tahun Jadi Wartawan – Karni Ilyas Lahir untuk Berita
Oleh: Fenty Effendy
Penerbit: Kompas Media Nusantara
Cetakan: I, Oktober 2012
ISBN: 798-979-709-671-7

ADA orang yang hidup jadi pengkhianat. Ada yang akhirnya jadi pahlawan. Biasanya keduanya berada di tempat yang berbeda dalam sejarah.

Karni Ilyas dilahirkan untuk menjadi pemburu berita (news hunter). Ia mengkhianati masa lalunya yang pahit, menggantikannya dengan keberhasilan semanis madu dari buah kerja keras yang seolah tak pernah selesai.

“Apa pun pernah saya lakukan, apa pun pernah saya jual untuk menyambung hidup dan pendidikan. Bermimpi itu halal. Tapi ada syaratnya, yaitu kerja keras, kerja keras, dan kerja keras,” katanya.

Anak sulung dari pasangan Ilyas Sutan Nagari-Syamsinar ini dinamakan Sukarni. Ia lahir di rumah kakek-neneknya, Datuk Basa dan Saibah, pada 25 September 1952. Rumah itu terletak di Johong Pahambatan, Balingka. Tepat di kaki Gunung Singgalang, sembilan kilometer dari Bukit Tinggi, Sumatra Barat.

Tak lama di sana, rumah kakek-neneknya dihancurkan tentara dalam kecamuk perang saudara PRRI, memaksa orangtuanya pindah ke Padang. Mereka kemudian menetap di Kampung Jao. Ayahnya membuka Toko Penjahit Malaya di Pasar Goan Hoat.

Di pasar itu, Karni menghabiskan masa kecilnya sampai remaja. Dari berteman main domino dengan para kuli angkut beras, dia mengawali peruntungannya sampai menjadi kaki-tangan Si Baro – kepala preman di sana. Si Baro yang selalu memberi uang jasa atas informasinya mengenai kedatangan truk yang melakukan bongkar-muat beras di gudang. Uang pemberian itu digunakan Karni untuk membeli buku, sepatu, dan keperluan sekolah.

“Saya (juga) biasa (menjual koran) ke (Pelabuhan) Teluk Bayur berjalan kaki, bahkan di bulan puasa... Kalau koran habis, saya bisa pulang naik kereta api. Tapi, kalau banyak yang tidak laku, saya terpaksa berjalan kaki sembilan kilometer lagi (pulangnya). Saya bisa melakukan itu sambil tetap berpuasa,” (halaman 18).

Ia berjualan apa saja: rokok, permen, kaos kaki, minyak rambut, hingga kupon kode buntut! Pernah juga mencari uang dengan cara mengumpulkan tanah di sela-sela trotoar di depan toko-toko emas. Tanah yang dikumpulkannya itu biasanya bercampur debu emas yang dibuang pemilik toko setelah mengikir emas untuk dijadikan perhiasan. Oleh Karni, serpih-serpihan itu dia panaskan sehingga membentuk kumpulan emas, lalu dijual kembali.

“Saya mulai menulis kelas 1 SMA. Topiknya apa saja. Kepala SMEA saya bahkan pernah marah karena pidatonya tahu-tahu sudah dimuat di koran Haluan, lengkap,” (halaman 24).

Penghujung Desember 1971, setelah mengantungi ijazah SMEA 1 Padang, Karni berangkat ke Jakarta naik KM Batanghari dari Pelabuhan Teluk Bayur. Bekalnya di kantong hanya Rp5 ribu, sedangkan ongkos kapal Rp17.500. Ia tahu, kalau gagal di rantau, tak ada lagi ongkos pulang.

Hidup menumpang di rumah sepupunya di Tanjung Priok, lama-lama dia merasa tak enak. Saat itu, Karni menempuh kuliah di Perguruan Tinggi Publisistik (PTP). PTP ialah perguruan tinggi yang menjadi cikal-bakal Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, sekarang.

Ia memutar akal, mencoba peruntungan kedua dalam hidupnya, dengan menjadi wartawan. Harian Abadi di Jalan Kramat Raya pilihan pertamanya karena sejak di Padang karyanya beberapa kali dimuat di koran ini. Lampu hijau dinyalakan Wakil Pemimpin Umum, Ali Mochtar Hoetasoehoet. Tapi “honornya kecil, dan berdasarkan pengalaman susah ditagih...” (halaman 34), Karni urung melangkah.

Harian Suara Karya yang baru satu tahun didirikan sejumlah kader Golongan Karya menarik minatnya. Pemimpin redaksi, Rahman Tolleng, setelah mengetes mental Karni, langsung menyuruhnya masuk kerja esok harinya.  

Sejak itu, Karni mulai merajut reputasi sebagai wartawan kriminal. Pindah dari Harian Suara Karya, dia meniti karir di Majalah Tempo. Prinsipnya, setiap berita adalah usaha. Teman setianya, sepedamotor butut, yang tiap pagi sebelum berangkat kerja harus ditambal tangki bensinnya dengan sabun batangan karena minyaknya sering menetes ke mesin. Tetesan itu berbahaya, motornya bisa terbakar (halaman 82).

Di majalah itu, dia makin melaju. Karni menyaksikan eksekusi hukuman mati terhadap Henky Tupanwael oleh pasukan Brimob di Madura. Artikelnya muncul dengan judul “Pasal Itu Ditembakkan Lagi” (Majalah Tempo, 12 Januari 1980) meski tanpa nama penulisnya. Ke Jenewa, Swiss, dia berangkat buat mewawancarai Kartika Thahir, ketika sejumlah wartawan gagal mengejar sang sumber.

Lepas dari itu, Karni memimpin FORUM Keadilan (halaman 165). Di majalah inilah awalnya digelar diskusi bulanan tentang hukum bekerja sama dengan Jakarta Lawyers Club (JLC). Mantan Presiden RI, BJ Habibie, pun sempat mengakui kiprahnya, “Anda yang memulai keterbukaan dengan pemberitaan sejak tahun 1992 sampai 1998,” (halaman 291). Pengakuan itu ditandai Bintang Mahaputera yang dianugerahkan pada 1999, tapi Karni memilih tidak hadir di Istana Negara lantaran merasa belum layak menerimanya.

Dipecat FORUM Keadilan, dia menakhodai layar Liputan 6 SCTV. Baru setahun di sana, Jenderal Purnawirawan Hendropriyono memberitahu: “Eh kamu ditunjuk Ibu Mega jadi Jaksa Agung!” Karni menolak tawaran untuk duduk di Kabinet Gotong Royong (halaman 326-327). Tapi di masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri pula, ternyata idenya banyak berguna. Saat ikut diajak dalam lawatan pertama ke Amerika Serikat, Karni memicu asal-mula pesawat kepresidenan menyediakan smoking-flight gara-gara kebiasannya merokok! (halaman 329). Mantan wartawan kriminal itu juga yang memberi nama Bandara Internasional Minangkabau di Padang pada 22 Juli 2005 (halaman 330).

Lantas, dia pindah sejenak ke antv (2005-06). Terakhir, sejak 2007, Karni menjadi pemimpin redaksi sekaligus pembawa acara di TV One.

Kepalanya yang dihiasi rambut uban berbentuk lingkaran bulat tanda tanya. Ia masih ingin tahu ini-itu tentang segala sesuatu. Kendati napasnya mulai pendek-pendek dan suaranya telah lama parau. Karni Ilyas terus memburu berita!

Mendedah Jurnalisme Teroris

0 komentar
Judul : Panduan Jurnalis Meliput Terorisme
Penulis : Hadi Rahman dkk
Penerbit : AJI Jakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : viii + 222 halaman
ISBN : 978-979-16381-5-9

Secara tradisional sebuah berita harus berkembang dari akar yang kuat, dari retorika. Mitchel V. Charn dalam buku Reporting menyatakan bahwa berita merupakan laporan tercepat mengenai fakta atau opini yang mengandung hal yang menarik minat atau penting, atau kedua – duanya, bagi sejumlah besar penduduk.

Kemampuan menulis berita memang tidak semua orang memilikinya seorang wartawanlah yang mempunya pekerjaan menulis. Banyak cerita yang terjadi saat para wartawan melakukan peliputan khusunya tentang terosisme.

Buku yang di gagas oleh Tim Aliansi Jurnalis Independen (Tim AJI) Jakarta ini meragkai cerita – cerita yang terjadi saat peliputan terorisme di Indonesia. Pengalaman para jurnalis ini terekan dalam buku saku setebal 222 halaman yang memuat semua komplehsitas isu – isu terorisme di Indonesia.

Frank Luther Mott dalam buku New Survey of Journalism menyatakan bahwa ada delapan konsep berita: Berita sebagai laporan tercepat (news as timely report), berita sebagai rekaman (news as record), Berita sebagai fakta objektif (news as objective fact), berita sebagai interpretasi (news as interpretation), berita sebagai sensasi (news as sensasion), berita sebagai minat insani (news as human interest), berita sebagai ramalan (news as prediction), dan berita sebagai gambar (news as picture) sudah terangkum jelas di dalam buku ini yang terlihat dari pengalaman para jurnalis yang menceritakannya. Cerita – cerita yang berada di dalam buku ini seolah – olah berbicara langsung kepada pembaca tentang rangkaian fakta di balik sebuah berita dan menuntuk pembaca untuk mengurai dari mana dan bagaimana konstruksi fakta tersebut terbentuk.

Hal yang di tonjolkan dalam buku ini adalah masalah pemetaan masalah. Selain itu wartawan yang sedang meliput terorisme daharuskan mempunyai sikap skeptis dan melakukan riset secara mendalam agar terjadi sebuah berita yang tidak membosankan dan menjadi hal yang baru dalam informasi mengenai terorisme.

Menurut Hasudungan dalam buku ini, seorang jurnalis harus memiliki dan memahami sebuah hakikat teroris. Kedua, jurnalis harus memiliki dan mampu mengenal struktur konflik yang jurnalis itu liput. Tanpa kedua hal tersebut maka hasil reportasi akan  terlihat mentah dan kurang mendalam dan pastinya kurang akurat.

Tapi dalam buku ini sebuah analisis konflik harus di dahului oleh riset yang memdalam agar memperoleh informasi yang cukup dan bisa di pertanggungjawabkan.  Tanpa sebuah informasi yang cukup makan sebuah analisis akan terasa hambar dan tidak ada rasanya sama sekali alias gagal.

Selain hal–hal tentang peliputan teroris dalam buku ini juga terdapat sejarah teroris di Indonesia dan dunia islam secara luas atau global yang berada di dalam bab 6.  Sejarah tersebut dimulai dari munculnya Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia yang dulu di pimpin Kartosoewiryo pada awal kemerdekaan Indonesia hingga Jama’ah Islamiayah yang di pimpin oleh Abdullah Sungkar dan Abubakar Ba’asyir.
Mengapa buku ini berjudul Panduan Jurnalis Meliput Terorisme? Karena ada hal – hal yang bisa menjadi acuan dalam liputan mengenai teroris. Salah satunya adalah buku ini menjelaskan karakteristik organisasi terorisme; mulai dari pola rekrutmen, area oprasi, strukturorganisasi, pendanaan dan pola jaringan.

Buku ini sangat berguna bagi kalangan jurnalis yang sedang meliput terorisme untuk mengidentifikasi masalah.  Dengan argumentasi isu – isu terorisme tidak akan lepas dari sejarah terjadinya organisasi  atau gerakan – gerakan radikal baik lokal atau internasional.

Dengan memahami sebuah gerakan radikal yang ada di Indonesia diharapkan hasil reportasi akan lebih mendalam, jernih dan akurat. Selain itu hasil liputan tidak sebuah bias wartawan dan pemahaman sempit yang sepihak dari seorang peliput berita atau wartawan.

Kualitas Berita Jurnalis

Kualitas suatu karya jurnalis seorang wartawan dapat diukur dengan seberapa dalam sang journals tersebut memahami isu yang ada dan seberapa trampil dia memosisikan dirinya pada titik moderat pada sebuah peristiwa sensitive yaitu terorisme. Jika sebuah karya jurnalis dianggap gagal adalah jika hasil reportasenya berat sebelah atau memihak. Dapat diambil kesimpulan bahwa wartawan yang reportasenya gagal adalah wartawan yang lebih dekat dengan polisi atau bahkan sebaliknya. Karena pernah ada seorang reporter yang juga terlibat terorisme.

Dalam buku ini menyatakan bahwa seorang tersangka terorisme mempunyai hak yang sama dengan narasumber lain. Selain itu wartawan juga wajib menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.

Buku ini sangat dianjurkan dibaca oleh para jurnalis, khususnya jurnalis pemula. Karena pada akhir buku ini ada beberapa tips – tips untuk melakukan liputan. Walaupn buku ini bayak mengadobsi peliputan konflik tapi buku ini bisa membuat kita memahami sebuah pentingnya analisis dari sebuah cerita dibalik fakta.

Dalam buku Panduan Jurnalis Meliput Terorisme ini menitikberatkan pada beberapa hal penting untuk seorang teroris. Dapat disimpulkan bahwa tidak semua berita yang melapokan tentang terorisme menghasilkan hal yang memuaskan pembaca dan bahkan terkesan menjenuhkan. Hal tersebut disebabkan karena factor peliputan yang sangat dangkal dan sekadar Cuma bombastis. Selain itu tak jarang juga para jurnalis terjebak pada sebuah berita omong – omong saja. Bahkan media bisa dijadikan sebagai alat propaganda oleh beberapa orang yang tak bertanggung jawab.

Semoga buku ini bisa mengubah peliputan jurnalis dalam kasus terorisme yang seringkali terkesan sangat bombastis hanya mengejar isu – isu tapi tidak mejelaskan dan terlalu mendramatisasi keadaan itulah yang sering terjadi. Semoga.

Peresensi: Imam Khanafi
Penulis tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Selasa, 11 Desember 2012

Biografi Dono Warkop DKI - Pelawak Indonesia

0 komentar






Bernama lengkap Drs. H. Wahyu Sardono atau di kenal sebagai Dono Warkop, ia dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 30 September 1951, Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara. Ia dikenal sebagai Pelawak dari grup komedi Warkop DKI bersama Kasino dan Indro. Semasa kecil Dono warkop menenyam pendidikan di SD Negeri 1 kebon dalem kemudian setelah lulus SD ia masuk di SMP negeri 1 Kebon Dalem, 3 tahun pendidikannya di SMP kebon Dalem ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA negeri 3 Surakarta dengan mengambil jurusan Ilmu Sosial (IPS), di SMA ia juga aktif dalam organisasi sekolah, terbukti bahwa ia berhasil menjadi ketua OSS di sekolahnya tersebut. Selepas luluas SMA dar SMA negeri 3 Surakarta, Dono wakop pun berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi di Jakarta, Ia mengambil Jurusan Ilmu Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Dono warkop juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan seperti Mapala UI.
Setelah lulus dari kampusnya ia juga dipercaya sebagai Asisten Dosen jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, di Universitas yang sama Dono juga menjadi Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Diluar aktivitas kampusnya, Dono warkop juga menjadi penyiar Radio Prambors, dari sinilah yang cikal bakal terbentuknya grup lawak fenomenal “Warkop DKI” yang awalnya bernama Warkop Prambors yang awalnya dibentuk oleh Nanu (Nanu Mulyono), Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro), yang kemudian terkenal menjadi Warkop DKI yang digawangi oleh Dono, Kasino dan Indro. Nanu, Rudy, Dono dan Kasino adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jakarta sedangkan Indro kuliah di Universitas Pancasila, Jakarta.
Mereka pertama kali meraih kesuksesan lewat acara Obrolan Santai di Warung Kopi yang merupakan garapan dari Temmy Lesanpura, Kepala Bagian Programming Radio Prambors. Acara lawakan setiap Jumat malam antara pukul 20.30 hingga pukul 21.15, disiarkan oleh radio Prambors yang bermarkas di kawasan Mendut, Prambanan, Borobudur, alias Menteng Pinggir. Ide awal obrolan Warkop Prambors berawal dari dedengkot radio Prambors, Temmy Lesanpura. Radio Prambors meminta Hariman Siregar, dedengkot mahasiswa UI untuk mengisi acara di Prambors. Hariman pun menunjuk Kasino dan Nanu, sang pelawak di kalangan kampus UI untuk mengisi acara ini. Ide ini pun segera didukung oleh Kasino, Nanu, dan Rudy Badil, lalu disusul oleh Dono dan Indro. Rudy yang semula ikut Warkop saat masih siaran radio, tak berani ikut Warkop dalam melakukan lawakan panggung, karena demam panggung (stage fright). Dono pun awalnya saat manggung beberapa menit pertama mojok dulu, karena masih malu dan takut. Setelah beberapa menit, barulah Dono mulai ikut berpartisipasi dan mulai kerasan, hingga akhirnya terus menggila hingga akhir durasi lawakan. Indro adalah anggota termuda, saat anggota Warkop yang lain sudah menduduki bangku kuliah, Indro masih pelajar SMA.

Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan (kalau sekarang prom nite) SMA IX yang diadakan di Hotel Indonesia. Semua personel gemetar, alias demam panggung, dan hasilnya hanya bisa dibilang lumayan saja, tidak terlalu sukses. Namun peristiwa pada tahun 1976 itulah pertama kali Warkop menerima honor yang berupa uang transport sebesar Rp20.000. Uang itu dirasakan para personel Warkop besar sekali, namun akhirnya habis untuk menraktir makan teman-teman mereka. Berikutnya mereka manggung di Tropicana. Sebelum naik panggung, kembali seluruh personel komat-kamit dan panas dingin, tapi ternyata hasilnya kembali lumayan. Baru pada acara Terminal Musikal (asuhan Mus Mualim), grup Warkop Prambors baru benar-benar lahir sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia. Acara Terminal Musikal sendiri tak hanya melahirkan Warkop tetapi juga membantu memperkenalkan grup PSP (Pancaran Sinar Petromaks), yang bertetangga dengan Warkop. Sejak itulah honor mereka mulai meroket, sekitar Rp 1.000.000 per pertunjukan atau dibagi empat orang, setiap personel mendapat no pek go ceng (Rp 250.000).

 Mereka juga jadi dikenal lewat nama Dono-Kasino-Indro atau DKI (yang merupakan pelesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota). Ini karena nama mereka sebelumnya Warkop Prambors memiliki konsekuensi tersendiri. Selama mereka memakai nama Warkop Prambors, maka mereka harus mengirim royalti kepada Radio Prambors sebagai pemilik nama Prambors. Maka itu kemudian mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI, untuk menghentikan praktik upeti itu. Setelah puas manggung dan mengobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat. Dari filmlah para personel Warkop mulai meraup kekayaan berlimpah. Dengan honor Rp 15.000.000 per satu film untuk satu grup, maka mereka pun kebanjiran uang, karena tiap tahun mereka membintangi minimal 2 judul film pada dekade 1980 dan 1990-an yang pada masa itu selalu diputar sebagai film menyambut Tahun Baru Masehi dan menyambut Hari Raya Idul Fitri di hampir semua bioskop utama di seluruh Indonesia.
 Dono Warkop DKI
 Dari semua personel Warkop, mungkin Dono lah yang paling intelek, walau ini agak bertolak belakang dari profil wajahnya yang 'ndeso' itu. Dono bahkan Dono warkop juga kerap menjadi pembawa acara pada acara kampus atau acara perkawinan rekan kampusnya. Kasino juga lulus dari FISIP. Selain melawak, mereka juga sempat berkecimpung di dunia pencinta alam. Hingga akhir hayatnya Nanu, Dono, dan Kasino tercatat sebagai anggota pencinta alam Mapala UI.
 Dono Warkop DKI
  Dono warkop menikah dengan Titi Kusumawardhani, dari perkawinannya ini Dono warkop dikaruniai tiga orang anak yang bernama Andika Aria Sena, Damar Canggih Wicaksono dan Satrio Sarwo Trengginas. Dono warkop sendiri telah membintai puluhan judul film komedi yang membawa namanya melambung bersama personil Warkop DKI yang lainnya di jagat hiburan Indonesia di tahun 90-an. Dunia Lawak Tanah Air kembali berduka ketika pada tanggal 30 Desember 2001 Dono warkop menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah sakit Rumah Sakit Santo Carolus, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.00 WIB setelah sebelumnya ditinggal pergi oleh personil Warkop DKi yang lainnya Kasino yang meninggal di tahun 1997. Almarhum Dono warkop meninggal dunia akibar penyakit tumor di bagian bokong dan sudah menjalar menjadi kanker paru-paru stadium akhir, dan menyerang lever, Dono warkop meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indrojoyo Kusumonegoro. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Prosesi pemakaman pelawak senior anggota Warkop DKI ini memang benar-benar mengharukan. Ribuan pelayat turut meneteskan air matanya karena tidak kuat menahan kesedihan melihat kepergiannya. Kini Personil Warkop DKI hanya tinggal Indro DKI.

Referensi :

- http://id.wikipedia.org/wiki/Wahjoe_Sardono
- http://id.wikipedia.org/wiki/Warkop
- http://news.liputan6.com/read/26282/dono-warkop-meninggal-dunia
- http://www.anginsurga.eu/warkopdki.html

Minggu, 09 Desember 2012

Kisah sukses pengkhianat Palestina

0 komentar

Bagi kebanyakan orang, uang mungkin segalanya. Prinsip inilah yang dipegang teguh Siad, warga Jalur Gaza.

Demi duit, ia rela menghianati perjuangan bangsanya sendiri. Ayah empat anak ini menjadi informan bagi pasukan Israel. Tugasnya memberi tahu di mana anggota Hamas dan Jihad Islam bersembunyi. "Saya memberikan informasi ke Israel antara 1977 dan 1996," kata Siad sambil menyeruput kopi panas di ruang tamu rumahnya yang mewah, seperti dilansir BBC empat tahun lalu.

Selama 19 tahun menjual informasi, Siad memperoleh kenyamanan hidup. "Ketika saya minta sebatang rokok, Israel memberikan sebungkus," ujarnya memberi tamsil. Padahal, saudara sebangsanya yang dijajah Israel hidup serba kekurangan dan ketakutan. Kondisi sekitar 1,5 juta warga Gaza makin menderita setelah negara Zionis itu memblokade wilayah itu pada pertengahan Juni 2007. Mereka kekurangan pasokan bahan makanan, air, listrik, bahan bakar, dan obat-obatan.

Semua itu tak percuma. Sekarang, Siad bersama istri dan dua putranya hidup nyaman di Sderot, kota di selatan Israel yang hanya satu kilometer dari perbatasan Gaza. Rumahnya yang berlokasi di sebuah jalan utama di Sderot berisi tiga kamar tidur dan dilengkapi peralatan mewah. Satu sedan BMW berwarna putih ada di garasi. Bisnisnya di bidang besi dan konstruksi maju pesat.

Ia pindah ke kota ini sepuluh tahun lalu bersama 79 penghianat lainnya lantaran keselamatan keluarga mereka terancam. "Karena itulah saya kemarin dan menjadi warga negara Israel. Sebab itu, mereka telah meberi saya kartu identitas," ujar Siad.

Sayangnya, Siad tidak bisa membawa kabur semua keluarganya. Alhasil, dua putranya menjadi korban balas dendam pejuang Palestina. Seorang ditembak mati dan satu lagi dipenjara.

Namun tidak semua penduduk Sderot menyambut baik, termasuk Batya Katar yang bekerja di bengkel mobil. Ia tidak yakin orang seperti Siad bisa benar-benar mencintai Israel. Ia malah menuding sejak kehadiran 80 keluarga penghianat Palestina tembakan roket Qassam dari Gaza makin mengenai sasaran. "Tiap kali Qassam ditembakkan, Siad menari-nari," kata Batya.

Menurut Natan Shrayber, pengacara para pengihanat itu, kliennya memang pantas mendapatkan apa yang dimiliki sebagian besar warga Israel. "Orang-orang ini telah membantu pasukan keamanan Israel menghancurkan Hamas dan musuh-musuh Israel lain. Tanpa pertolongan mereka, kualitas intelijen Israel tidak bagus," ujarnya.

Jumat, 07 Desember 2012

Nubuat kiamat Nostradamus, bumi meledak bulan ini?

0 komentar
MERDEKA.COM, Sebentar lagi 21 Desember 2012. Konon saat itulah dunia ini diramal kiamat. Ketika sumbu bumi semakin miring, perlahan-lahan bencana besar melanda. Gempa memecah belah bumi, mulai dari bagian bumi barat, dari benua Amerika terus meluas hingga belahan bumi Timur, Jepang dan kawasan Asia. Nubuat kiamat itu diramalkan Nostradamus.

Peramal Nostradamus lahir di Boulougne, Perancis pada 1503, dan meninggal 1566 pada umur 62 tahun. Dia meramal sebuah planet X atau disebut Nibiru. Kata dia, Nibiru bakal menghantam laut Mediterania 19 hari lagi. Kini posisi planet X itu sejajar dengan venus.

Richard Deem, ilmuan biologi dari Universitas Southern California, sepertinya memercayai ramalan itu. Dia sempat menulis catatan pada leman situs www.godandscience.org.

Menurutnya, nubuat tentang kiamat bisa jadi benar. Sebab, selain ramalan tentang nibiru, secara ilmu pengetahuan tahun ini siklus tata surya di dalam galaksi mengalami perubahan saban 33 tahun sekali, di mana posisi Matahari berada tepat di tengah galaksi.

Peristiwa itu, dia melanjutkan, bisa jadi tepat terjadi pada 21 Desember 2012. Pada saat bersamaan, kutub akan mengalami pergeseran besar karena penyelarasan pusat galaksi dengan matahari. Hal itu akan menyebabkan guncangan gempa bumi besar, gunung berapi, dan tsunami.

Nubuat kiamat juga diramalkan seorang dukun terakhir suku Inca di Peru, Amerika Latin. Suatu hari, pada 1949 silam, Dr Alberto Villoldo, ahli psikologi dan antropolog obat asal Peru, bertemu dukun bernama Q’ero di pegunungan.
Kepada Villodo, dukun itu mengungkap ramalan kiamat. Konon, kata dia, ketika cara fikir manusia mati, itulah tanda berakhirnya hubungan manusia dengan alam dan bumi.

Ketika alam kehilangan keseimbangan karena ulah manusia, maka ketika itu bumi akan bergejolak selama empat tahun, ditandai dengan runtuhnya peradaban Eropa. Ramalan Nostradamus dan dukun Inca juga didukung ramalan lain, misalnya ramalan kiamat didasari berakhirnya kalender suku Maya di Amerika tengah.

Kalender suku Maya menandai akhir dari lingkaran tahun 5.126, bila dihitung tepat pada 21 Desember 2012. Pada saat itulah dewa perang dan penciptaan, Bolon Yokte akan kembali dan menandai berakhirnya Baktun 13, yaitu periodisasi waktu 394 tahun yang diciptakan bangsa Maya. Kemunculan Bolon Yokte akan menandai kehancuran dunia. Namun belakangan ramalan suku Maya ini dibantah.

Bila kiamat benar-benar terjadi bulan ini, apakah anda benar-benar sudah siap? Sebab, kata Ricahrd Deem, bila kiamat terjadi, maka tidak banyak yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mempersiapkan akhir dunia.

"Tentu saja, jika anda benar-benar percaya dunia akan berakhir, maka anda tidak akan membutuhkan uang lagi," kata Richard.
Sumber: Merdeka.com